Setiap iPhone memiliki label khas: “Designed in California”. Tapi kenyataannya, sebagian besar iPhone yang kita genggam lahir jauh dari Negeri Paman Sam—tepatnya di pabrik-pabrik megah di China.
Negara itu kini menjadi sasaran utama tarif impor baru dari mantan Presiden AS, Donald Trump, yang bisa melonjak hingga 245% untuk beberapa produk China. Dan meski Apple baru saja “diselamatkan” lewat pengecualian tarif untuk smartphone dan komputer, ancaman belum berakhir. Trump mengisyaratkan tarif tambahan di sektor semikonduktor dan seluruh rantai pasok elektronik.
Ketergantungan Apple pada China
Dari lebih dari 220 juta iPhone yang dijual setiap tahun, sekitar 90% dirakit di China. Dari layar mengilap hingga baterai, hampir seluruh komponen Apple—termasuk iPhone, iPad, hingga MacBook—bersumber dari negeri Tirai Bambu.
Bahkan, 150 dari 187 pemasok utama Apple di tahun 2024 memiliki pabrik di Tiongkok.
CEO Apple, Tim Cook, bahkan mengakui:
“Tidak ada rantai pasok di dunia yang lebih penting bagi kami dibandingkan Tiongkok.”
Namun, kekuatan itu kini jadi kelemahan. Itu karena rantai pasok global yang dibanggakan Apple, kini menjadi titik rawan dalam perseteruan dua raksasa ekonomi dunia: AS dan China.
Dari Penyelamat Menjadi Sumber Ancaman
Apple mulai membangun kehadirannya di China pada akhir 1990-an, saat mereka hampir bangkrut. Mereka menemukan harapan di negara yang sedang membuka diri bagi investasi asing.
Sejak tahun 2001, Apple menggandeng Foxconn—raksasa manufaktur asal Taiwan—untuk memproduksi iPod, iMac, hingga akhirnya iPhone. Dan hari ini, pabrik iPhone terbesar di dunia ada di Zhengzhou, Tiongkok, dijuluki “iPhone City”.
Dengan bantuan Apple, banyak pemasok lokal Tiongkok naik kelas. Beijing Jingdiao, misalnya, dulu hanya memotong akrilik, kini menjadi produsen mesin presisi tinggi untuk komponen iPhone.
Namun sekarang, setelah membantu Tiongkok menjadi pusat manufaktur global, Apple justru harus bersaing dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok seperti Huawei, Xiaomi, dan Oppo yang memanfaatkan rantai pasok yang sama.
Tahun lalu, Apple bahkan kehilangan posisi puncak sebagai merek ponsel terlaris di Tiongkok, dikalahkan oleh Huawei dan Vivo.
Mimpi Merakit iPhone di AS? Hanya Fantasi
Pemerintahan Trump kini mendorong agar manufaktur kembali ke tanah air. Tapi menurut Eli Friedman, mantan penasihat akademik Apple:
“Pikiran untuk merakit iPhone di Amerika adalah fantasi belaka.”
Meski Apple mulai memindahkan sebagian produksi ke Vietnam dan India, sebagian besar perakitan tetap di China. Dan langkah diversifikasi ini pun tak semudah yang dibayangkan, karena negara-negara alternatif seperti Vietnam juga terkena ancaman tarif Trump.
Tarif Baru, Tantangan Lama
Langkah Apple untuk berinvestasi $500 miliar di AS pun tampaknya belum cukup untuk meredam ambisi Trump yang ingin “memulangkan” seluruh rantai pasok teknologi.
Tarif tambahan mungkin tidak langsung melumpuhkan Apple. Namun menurut analis rantai pasok Jigar Dixit, tekanan politik dan operasional yang muncul bisa sangat besar.
“Jelas krisis belum berakhir. Apple belum bisa bernapas lega,” tutup Friedman.


















Comments