Anak zaman sekarang jelas tak tahu bahwa di zaman dulu atau ketika ayah ibu mereka masih remaja, HP merek Siemens pernah jadi idaman, di kisaran tahun 2000-an. Mereka mampu memberi perlawanan pada Nokia atau Motorola yang saat itu penguasa ponsel dunia. Akan tetapi pada akhirnya, HP Siemens mengalami kebangkrutan.
HP pertama saya juga Siemens, yaitu Siemens A55. Orang tua membelikannya kala saya akan kuliah. Waktu itu, harganya sekitar Rp 700 ribu dengan kemampuan sangat terbatas jika dibanding HP zaman sekarang, tapi sudah cukup baik di zamannya. Sebagian teman saya juga gemar memakai HP Siemens.
Jadi bagaimana bisa Siemens kemudian bangkrut? Di tahun 2000, CEO Siemens saat itu, Heinrich von Pierer, mengeluarkan pernyataan agresif. “Kami akan mengambil alih dunia ponsel. Kami yakin bahwa kami akan dapat merebut posisi terdepan dari Nokia, Motorola dan Ericsson,” tandasnya kala itu.
Tahun 2000, Siemens punya pangsa pasar 8,6%, cuma kalah dari Ericsson, Motorola dan Nokia. Tahun 2003, posisi mereka stabil dengan market share 8,5% secara global. Tapi tahun 2004, mulai tampak penurunan. Market share jadi 7,2% dan mulai menelan kerugian besar. Bahkan di kuartal I 2005, market share mereka tinggal 5,6%.
Saat itu analis dan pakar industri dibuat bingung oleh penurunan bisnis HP SIemens yang begitu mendadak. “Faktanya, Siemens benar-benar tidak melakukan kesalahan besar,” kata Roland Pitz, analis di HypoVereinsbank.
Seorang eksekutif Nokia Jerman yakin keruntuhan Siemens mungkin kombinasi dari kecelakaan, kesombongan, salah perhitungan, dan kelalaian. Pertama, Siemens dinilai tidak cukup baik menggarap pasar di luar Eropa. Di Amerika Serikat dan kawasan Asia, mereka kurang optimal. Kemudian, Siemens terlambat menyadari perubahan pasar di mana usia sebuah HP semakin pendek dan produsen lain berlomba menelurkan produk baru.
Samsung dan Nokia ketika itu meluncurkan hingga 80 model baru setahun ke pasar global, sementara peluncuran HP baru Siemens tidak bisa menandinginya. Masih banyak HP usang dijual ke pasar.
Di sisi lain, HP juga mulai jadi aksesori fashion. Siemens cukup cepat mengikuti tren itu, menciptakan ponsel Xelibri yang dijual di butik seperti perhiasan. Tapi upaya itu gagal. Perangkat mewah ini tak nyaman dipakai pengguna biasa, sementara konsumen lebih kaya tak berminat lantaran bahannya dari plastik.
Siemens juga lambat berinovasi. Misalnya dalam ponsel kamera, Siemens memilih kamera plug-in eksternal, sementara pesaing telah mengintegrasikan kamera ke dalam ponsel. “Pada dasarnya, Siemens gagal mengantisipasi tren yang berkembang di bisnis ini,” kata Theo Kitz, analis di Merck Finck.
“Mereka ini secara terus menerus terlambat dengan inovasi yang krusial dan hal itu sungguh melukai mereka pada akhirnya,” cetusnya kala itu.
Tahun 2005, divisi HP Siemens menderita kerugian USD 530 juta. Perusahaan ini pun terpaksa dijual pada BenQ, tapi tetap saja tidak banyak perkembangan hingga benar-benar gulung tikar.


















Comments