News

Amazon Dikabarkan Akan Gantikan 600 Ribu Pekerja dengan Robot

0
Robot Amazon
Robot Amazon

Amazon tengah menjadi sorotan setelah laporan The New York Times menyebut perusahaan berencana menggantikan sekitar 600.000 pekerja manusia dengan robot di gudang-gudangnya. Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi otomatisasi besar-besaran untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Namun, Amazon membantah laporan tersebut. Dalam pernyataan yang dikutip dari CNET, juru bicara Amazon menyebut bahwa informasi dalam laporan itu “berasal dari dokumen internal yang bocor dan tidak lengkap,” serta tidak mencerminkan strategi resmi perusahaan.

“Dokumen yang bocor sering kali memberikan gambaran yang tidak lengkap dan menyesatkan tentang rencana kami, dan itulah yang terjadi di sini,” ujar juru bicara Amazon.

Pihak Amazon menegaskan bahwa perusahaan tetap menjadi salah satu pencipta lapangan kerja terbesar di Amerika Serikat. Selama dekade terakhir, tidak ada perusahaan yang menciptakan lebih banyak pekerjaan di AS selain Amazon.

Perusahaan juga menambahkan bahwa mereka saat ini aktif merekrut sekitar 250.000 posisi musiman menjelang musim liburan akhir tahun. Amazon menyatakan fokusnya adalah menciptakan peluang kerja baru, bukan menghapus pekerjaan yang sudah ada.

“Investasi kami akan terus menghasilkan lapangan kerja yang signifikan, dengan penekanan pada posisi dengan bayaran lebih tinggi,” tambah Amazon.

Dampak Otomatisasi terhadap Tenaga Kerja

Amazon merupakan pemberi kerja terbesar ketiga di AS setelah pemerintah federal dan Walmart, dengan sekitar 1,5 juta karyawan. Jika benar terjadi, pengurangan 600.000 pekerja akan berdampak besar – setara dengan total tenaga kerja di perusahaan pengiriman besar seperti FedEx yang mempekerjakan sekitar 550.000 orang.

Sejumlah studi sebelumnya menunjukkan bahwa setiap penambahan satu robot per 1.000 pekerja dapat menurunkan upah rata-rata sebesar 0,42% dan berkontribusi terhadap hilangnya sekitar 400.000 pekerjaan di AS hingga 2020.

Meski begitu, Amazon menilai bahwa teknologi otomatisasi justru membuka peluang baru di sektor dengan keahlian lebih tinggi. “Efisiensi di satu bidang memungkinkan kami berinvestasi di bidang lain, yang pada akhirnya menciptakan nilai tambah bagi pelanggan,” tulis Amazon.

Langkah Amazon memperluas penggunaan robot memang bukan hal baru. Perusahaan ini telah menggunakan sistem robotika di gudang-gudangnya selama lebih dari satu dekade, terutama setelah mengakuisisi perusahaan robotika Kiva Systems pada 2012.

Kini, dengan kemajuan kecerdasan buatan dan sistem logistik otonom, otomatisasi menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang Amazon. Namun, di sisi lain, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran sosial tentang hilangnya lapangan kerja manusia dan meningkatnya ketimpangan ekonomi.

“Rekam jejak kami menunjukkan bahwa kami secara konsisten menjadi pencipta lapangan kerja besar sambil terus berinvestasi dalam peningkatan keterampilan tenaga kerja kami untuk peran yang terus berkembang,” tambah juru bicara Amazon.

Langkah menuju otomatisasi total tidak lepas dari kritik. Banyak pihak menilai bahwa percepatan penggunaan robot di industri logistik dapat memperparah ketimpangan dan menekan daya tawar pekerja manusia.

Namun, di sisi lain, para analis melihat otomatisasi sebagai langkah tak terhindarkan dalam industri modern. Perusahaan seperti Amazon berupaya menemukan keseimbangan antara efisiensi teknologi dan tanggung jawab sosial terhadap pekerjanya.

Hingga saat ini, Amazon belum mengeluarkan pernyataan tambahan terkait laporan The New York Times tersebut. Dengan musim belanja liburan yang semakin dekat, fokus perusahaan tampaknya tetap pada perekrutan tenaga musiman – sambil terus melanjutkan investasi jangka panjang di bidang robotika dan kecerdasan buatan.

OpenAI Rilis ChatGPT Atlas: Browser AI Penantang Google Chrome!

Previous article

Nubia Z80 Ultra Rilis: Snapdragon 8 Elite Gen 5 Baterai 7.200 mAh

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in News