Raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung, resmi meluncurkan tiga ponsel lipat terbaru pada Rabu (16/7), dalam acara Unpacked 2025 di New York.
Peluncuran ini menjadi strategi Samsung untuk menarik lebih banyak konsumen agar beralih ke perangkat lipat di tengah persaingan yang semakin ketat, terutama dari produsen Tiongkok seperti Honor dan Oppo.
Tiga perangkat baru yang diumumkan adalah Galaxy Z Fold7, Galaxy Z Flip7, dan Galaxy Z Flip7 FE (Fan Edition) yang adalah versi lebih terjangkau dari Flip 7.
Persaingan Ketat di Pasar Foldable
Samsung memperbarui lini ponsel lipatnya di saat pangsa pasarnya menurun. Berdasarkan data dari Canalys, pangsa pasar global Samsung untuk ponsel lipat turun dari 54% pada 2023 menjadi 45% di 2024.
Pasar China juga memainkan peran besar, dengan 17,2 juta unit foldable terjual secara global tahun lalu, namun hanya 9,4 juta unit jika tidak menghitung penjualan di daratan China. Artinya, kontribusi China sangat tinggi.
Honor, yang memisahkan diri dari Huawei pada 2020, baru saja merilis Magic V5, ponsel lipat ultra-tipis yang menjadi pesaing langsung Fold7. Oppo sebelumnya juga meluncurkan Find N5, perangkat serupa dengan desain ramping.
Galaxy Z Fold7: Tipis, Ringan, dan Lebih Besar
Galaxy Z Fold7 hadir dengan ketebalan hanya 8,9 mm saat dilipat dan 4,2 mm saat dibuka, menjadikannya salah satu ponsel lipat tertipis saat ini. Beratnya pun dikurangi menjadi hanya 215 gram, setara dengan Honor Magic V5 dan Oppo Find N5.
Layar penutupnya berukuran 6,5 inci, sementara layar utama saat dibuka mencapai 8 inci, lebih besar dari generasi sebelumnya. Dari sisi kamera, Fold7 dibekali sistem premium: kamera utama 200 MP, sensor telefoto 10 MP, ultra-wide 12 MP, dan dua kamera depan 10 MP — masing-masing di layar penutup dan layar utama.
Namun, Fold7 sedikit tertinggal dalam hal daya tahan baterai. Kapasitas baterainya hanya 4.400 mAh, dibandingkan dengan 6.100 mAh milik Honor Magic V5 dan 5.600 mAh pada Oppo Find N5. Meski begitu, Samsung mengklaim perangkat ini mampu memutar video selama 24 jam tanpa henti.
Galaxy Z Flip7 dan Flip7 FE: Lebih Tipis dan Terjangkau
Galaxy Z Flip7 hadir dengan desain lebih ramping dari pendahulunya, yaitu 6,5 mm saat dibuka (dibandingkan 6,9 mm pada Flip 6). Layarnya terdiri dari layar penutup 4,1 inci dan layar utama 6,9 inci.
Untuk urusan kamera, Fli 7 membawa kamera utama 50 MP, ultra-wide 12 MP, dan kamera depan 10 MP yang berada di layar utama. Baterainya pun ditingkatkan menjadi 4.300 mAh, yang diklaim mampu memutar video selama 31 jam dalam satu kali pengisian.
Bersamaan dengan Flip 7, Samsung juga meluncurkan Galaxy Z Flip 7 FE, versi yang sedikit lebih kecil dan lebih tebal, namun dengan harga lebih terjangkau.
Fitur AI dan Kecerdasan Gaya Berbusana
Samsung juga menonjolkan kemampuan AI (kecerdasan buatan) pada perangkat Fold dan Flip 7. Perusahaan ini melanjutkan kolaborasi dengan Google dalam menggunakan model bahasa Gemini untuk mendukung berbagai fitur AI — sebuah praktik yang telah dilakukan selama dua tahun terakhir.
Galaxy Z Fold7 dibekali chip gahar yaitu Snapdragon 8 Elite for Galaxy, hasil kerja sama Samsung dan Qualcomm, yang memungkinkan pemrosesan AI dilakukan langsung di perangkat, bukan di cloud. Sedangkan Galaxy Z Flip7 memakai Exynos 2500 yang dijanjikan punya kinerja dan efisiensi daya tingkat flagship.
Fitur AI terbaru termasuk:
-
Penghapus objek dan orang secara otomatis dari foto (misalnya jika ada orang tak dikenal masuk dalam gambar),
-
Penghapus suara latar belakang otomatis saat merekam video.
Untuk Galaxy Z Flip7, pengguna juga dapat mengakses aplikasi Gemini Live langsung di atas aplikasi kamera saat merekam video diri sendiri. Fitur ini memungkinkan pengguna meminta saran mode berpakaian dari AI secara real-time.
Tantangan di Masa Depan: Bukan Hanya Soal Desain
Meski inovasi desain tetap penting, para analis menilai bahwa keberhasilan ponsel lipat akan ditentukan oleh pengalaman software yang ditawarkan.
“Kepemimpinan yang bertahan lama bergantung pada bagaimana redefinisi fungsi dari ponsel lipat, bukan hanya penampilannya,” kata Sheng Win Chow, analis senior di Canalys.
“Gelombang persaingan berikutnya akan datang dari sisi software, yaitu bagaimana vendor memanfaatkan bentuk foldable untuk memberikan pengalaman yang benar-benar berbeda,” tambah dia.



















Comments